Hijau Kelabu

kategori:


Hijau Kelabu
Originally uploaded by awantoriadi
What do you say?

Lanjuuuut...

Matinya Air Kran Kontrakanku!

kategori:

Maaph kalo judulnya mengada ada n rada jayuz, kekeke

Ini bukannya mau ngikutin judul bukunya Buya Hamka, tapi karena kejadiannya sama sama di Sumbar, yah.. disambung sambungin aja deh.

Kejadian bermula *halah* dari sebuah kota kecil bernama padangpanjang. Yang tentram dan damai, yang terkenal dengan rimbunnya pohon dan derasnya aliran sungai, yang berada di kaki gunung marapi, yang dibawahnya terdapat lembah anai, yang sekarang telah terkena dampak pemanasan global, alias global warming.

Buat yang belum tau Padangpanjang, itu sama kayak "Puncak"nya Bogor, ato "Batu"nya Malang. Jadi kalo kota Padang letaknya di pinggir pantai, maka Padangpanjang adanya di perut gunung, hanya setengah jam dari Bukittinggi, yap benar sekali, Bukittinggi tempat kelahiran Bung Hatta itu. Yang ada Jam Gadangnya.

Sayangnya Padangpanjang yang dulunya dingin menyejukkan, sekarang sudah panas. Nah loh, terus apa hubungannya sama kran air kontrakan Saya, sabar... hela napas, mari kita bahas...

Pagi ini, saat bangun subuh (disini jam 6 masih gelap euy, dulu) seperti biasa Saya menuju kamar mandi, untuk wudhu tentunya, blom berani mandi pagi disini, dingin! ketika Saya nyalakan kran, ternyata airnya tidak keluar, 'ah, mungkin saluran PAMnya diputar orang" pikir Saya. Karena kontrakan saya ini di lantai ke dua, ditambah kesadaran belum 100% pulih, maka Saya biarkan, terlalu malas rasanya harus naik turun untuk menyalakan PAM.

Hari beranjak siang, dan untung hari ini libur (Kebangkitan Nasional katanya, hihihi). Karena air masih belum menyala juga. Bayangkan kalau Saya harus ke kampus tanpa mandi, walaupun mungkin itu hal yang lumrah di kampus saya (kampus seni gitu lho!), tapi itu ga lumrah buat Saya, yah jelek jelek gini kan tambah jelek kalo gatel gatel. Tentunya situ tau kan gimana rasanya. huehehe...

Menjelang dzuhur, Saya mulai panik, lah gimana enggak panik, perut Saya cuma diisi air teh sedari pagi. Sedangkan untuk masak, air masih blom ngalir, dan jujur saja, bau badan pun sudah menyebar, dengan hati kuesal, akhirnya dengan terpaksa Saya masak nasi pakai air bak, kotor sih, cuman sekotor kotornya air bak disini masih bisa diminum kok, hehehe, tapi tetap saja gondok, sambil ngedumel Saya menjarang nasi, lalu mencuci piring *haduh, rajin amat cowok nyuci piring

Belum selesai ngedongkol... ternyata masih ada tambahan, begitu nyalain kompor, ternyata minyaknya habis, hualaaah.. hari kok njengkelin banget yak? dalam hati Saya cuma ngucap, sambil memelankan nafas, mencoba menikmati setiap momen kekesalan yang Saya rasakan. Hasilnya? tambah kesel, hehehe, lagian kok ada hari na'as banget kayak gini, terpaksalah Saya belanja ke warung depan rumah dengan rambut acak acakan karena belum mandi, rasain lo!

Di warung inilah Saya menemukan jawaban kenapa air kran Saya meninggal, ternyata PDAM memang mengadakan pemadaman bergiliran *emang listrik?* entah apa sebabnya, yang jelas Saya cuma mikir, kok bisa? Padangpanjang kota sehijau ini bisa kekurangan air? Apa Saya yang khilaf? Ato ini cuma kejadian yang dipolitisir menjelang kampanye pilkada bulan Juni? *otak parno Saya kumat, hehehe

Sambil pulang dari warung, Saya cuma merenung, sebegitu besarkan dampak pemanasan global terhadap bumi? Bahkan di Padangpanjang pun sudah ada yang terjangkit penyakit DBD, ya sodara sodara, Demam Berdarah! Penyakit yang biasanya cuma menyerang daerah panas, bahkan nyamuk pun sudah bisa hidup disini, biasanya? ga bakal kuat tu nyamuk keluar siang, apalagi malem!

Mungkin post kali ini membosankan untuk dibaca, cuma Saya bersyukur karena disini masih terdapat air bersih, ga terbayang gimana dengan saudara Saya yang di kotanya ga ada air bersih, atau malah ga ada air sama sekali, dan saya jadi ingat pernah melihat slide yang bagus banget yang menyadarkan pentingnya air untuk kehidupan, judulnya "Surat dari Tahun 2070", begitu mengharukan. ga percaya? just see below ...

Lanjuuuut...

Haruskah Kita Merasa Harus?

kategori:

Berapa kali dalam sehari Anda merasa harus melakukan sesuatu? Anggaplah 10 kali sehari, dari harus bangun pagi, harus berangkat ke kantor secepatnya, harus menyelesaikan tugas, harus menelpon pacar, harus ini, harus itu, harus entah apalagi, intinya harus! Dengan asumsi itu, berarti Anda sudah mempunyai 3.650 kali harus dalam setahun, dan kalau Anda hidup selama 60 tahun, itu artinya Anda punya 219.000 harus seumur hidup!!! wow, amazzzing or... dizzing?

Apa artinya data diatas?

Yah, mungkin bagi orang yang hidup dalam rutinitas data ini tidak menjadi sesuatu penting. Saya pun baru menyadarinya akhir akhir ini, gerak kehidupan yang kadang berputar terlalu cepat tidak mengijinkan kita menyadari hal kecil seperti ini. Tapi apabila kita mau berhenti sebentar dan menyadari gerak jantung memompa darah ke seluruh penjuru tubuh, dan paru paru memasukkan partikel udara melalui hidung, maka makna harus dalam hidup ini akan terlihat dengan jelas, dan itu berbeda beda pada masing masing individu.

Percayakah Anda kalau saya bilang; dengan hanya mengurangi kata harus yang terucap dalam sehari akan mempengaruhi kepuasan Anda terhadap hidup? we'll see...

Percobaan sederhana untuk mengetahui bagaimana kata harus mempengaruhi hidup adalah dengan menjawab pertanyaan ini dengan jujur : Apa yang Anda rasakan apabila disuruh untuk push up sebanyak 50 kali? Bagaimana kalau dengan imbalan 10rb/push up? bagaimana kalau Anda hanya HARUS melakukannya? atau bagaimana kalau Anda melakukannya sambil melihat sebuah golok ditodongkan ke Anda?

ups, sorry, contohnya terlalu ekstrim, tapi itu benar benar bisa menggambarkan bagaimana perasaan harus itu muncul dalam diri kita.

Kata harus, biasanya akan membuat kita merasa terpacu untuk melakukan sesuatu, terlepas dari tercapai atau tidaknya hal tersebut. Kata itu akan memicu alam bawah sadar kita untuk bergerak, bergerak dan bergerak. Hal yang bagus untuk beberapa orang, karena membuat mereka merasakan "hidup". Bahkan bisa membuat sebagian dari kita merasa berprestasi. Tapi satu hal yang kita lupakan dari kata harus ini, ia juga bisa menyebabkan perasaan menyesal, lose atau kalah.

Penyesalan?? ya... penyesalan dan segudang perasaan buruk lainnya.

Contoh kasus, apa yang anda rasakan apabila anda terlambat bangun pagi, sedang malam sebelumnya Anda merencanakan untuk lari pagi dan harus bangun? yup, kecewa. Dan menyesal karena telah gagal bangun pagi dan batal lari pagi. Salahkan? tentu saja tidak, itu manusiawi. Dan karena ke-manusiawi-annya kita sering mengabaikannya, dan ujung ujungnya, perasaan menyesal yang sering kita abaikan menyerang balik, melalui apa? stress dan depresi tentu saja.

Kata harus juga sering diasosiasikan dengan pasti. Kata harus yang pasti ini memang bernada positif, seperti harus bekerja keras, sedikit banyak membuat kita merasa pasti berhasil, atawa optimis. Tidak ada yang salah dengan itu semua, hanya saja, ya.. hanya saja kita lebih sering tidak menyadari apa yang kita rasakan.

Ada yang merasa aneh setelah membaca tulisan ini? Atau lebih tepatnya merasa bingung? tenang saja, tidak ada yang aneh dengan Anda, karena Saia juga bingung kenapa tulisan saya jadi begini, *ternyata kumatku blom sembuh T_T

Oke deh, kapan kapan Saya bahas kata, perasaan dan pengertian harus dari sudut dan segi lain, yang lebih enak dan dipahami pembahasannya, soalnya ketika nulis ini kepotong ama nelpon plus makan malem, walhasil tulisan Saya jadi ga nyambung *emang ga bakat nulis kali yak, hehehe

PS : Saya sendiri mulai belajar mengurangi keharusan dalam hidup, I mean, belajar mengendalikan keharusan dalam hidup, dan belajar menyadari bahwa kata harus adalah ciptaan pikiran untuk mencapai ambisinya, sayangnya tidak selamanya perasaan mau menerima kegagalan dari keharusan yang diciptakan pikiran *halah, mbulet, makin puciiiiingggg!!!

Lanjuuuut...

Tidak Ada Alasan Untuk Tidak Berbahagia

kategori:

Ya, itu saja...

Saat ini Saya sedang menikmati kebahagiaan. Atau lebih tepatnya, belajar menikmati kebahagiaan. Sudah terlalu lama Saya menunggu untuk berbahagia, dengan berbagai macam prasyarat yang lebih rumit daripada mengisi angket pajak. Sayangnya, prasyarat kebahagiaan tersebut tidak pernah terpenuhi, walhasil, bahagia Saya pun masih berstatus pending.

Manusia terkadang sangat naif, dan dengan senang hati berusaha menyiksa diri sendiri.

Lho? kok Blog ini jadi filosofis kayak gini? hehehe, entahlah, mungkin selera yang nulisnya lagi pengen mendayu ndayu, yes... i am back! setelah absen menulis selama.... 3 bulan!!!!! shit!!!

Kemana aja daku selama ini? sampe blog ku tercinta nan tersayang hampir terbuang? sungguh panjang perjalanan nasib manusia, sampe kalo ga hati hati, bisa tersesat kemana mana, hahaha, ya itulah jawabannya, selama ini Saya tersesat di belantara dunia maya (bukan dunia Maia lho!)

well, satu satunya alasan yang bisa saya kemukakan kenapa saya rajin tidak menulis adalah salah satu hal dari pada hil yang sudah sangat umum, yang mana itu adalah bernama : ga konsisten! :D


Ya, apa lagi?

dah ah, gitu dulu aja preambulenya, masih blom konek untuk nulis panjang panjang, dan Saya juga ga mau janji besok besok mau nulis apa nggak, saatnya menikmati hidup, bukan menyiksa diri, sampai disini, Anda pasti sudah mengambil kesimpulan, "ada sesuatu yang aneh dengan otak saya", hehehe, no problemo, that's true, I am crazy right now, dan sebagaimana tulisannya orang gila, jangan diambil pikir, ketawain ajah!

Lanjuuuut...

Belajar Ikhlas dengan Bersedekah

kategori:

Pernahkah teman teman mendengar pepatah, "Give, you will Get"? atau dalam bahasa religiusnya, bersedekahlah maka kita akan menerima balasan yang berkali lipat dari apa yang kita sedekahkan?.

Bersedekah atau memberi adalah salah satu cara untuk melatih keikhlasan dan mengendalikan ego, lho kenapa kok tiba tiba saya berbicara mengenai keikhlasan? Karena Saya baru mengerti kalau ikhlas adalah pintu gerbangnya sukses yang paling mudah. Inget film "Kiamat Sudah Dekat" garapan om Dedy Mizwar? ya, salah satu rahasia ikhlas terlihat di film yang mengajarkan "ilmu ikhlas" tersebut.

Dan bersedekah adalah tools yang paling gampang untuk mengukur parameter keikhlasan ini.

Berawal dari kegundahan Saya yang selalu merasa kurang beruntung, padahal kalau orang lain melihat, kehidupan saya termasuk normal dan berlebih. Tapi kenapa saya selalu merasa kurang? Jawabannya Saya temukan beberapa bulan lalu ketika membaca buku the Secret dan dilanjutkan dengan Quantum Ikhlas karangan Erbe Sentanu. Saat itu Saya menemukan jawaban dari masalah saya dan merasa mengetahui cara untuk menghilangkan kegundahan Saya adalah dengan belajar ikhlas dan bersyukur.

Tapi sayangnya cara tersebut belum berhasil mendatangkan apa yang saya inginkan, yaitu kebahagiaan. Sehingga sedikit demi sedikit rasa percaya Saya mulai menghilang, ada sih sisanya sedikit, tapi hanya cukup untuk membuat saya berkata "oh, the secret, dah basi ah teorinya" dan tidak mempraktekkannya.

Tapi pencarian terus berlanjut sampai saya menemukan milis dan forum yang membahas the secret (dikhususkan ke Law of Attractionnya) ini lagi, dengan perasaan ingin tahu yang pas-pasan. Saya mempelajarinya, salah seorang yang berhasil mempraktekkan LoA ini mengungkapkan, bahwa yang membuat LoA tidak bekerja adalah karena ego manusia yag susah ditaklukkan, dan dia bercerita bahwa sebelum mempelajari LoA, dulu dia diberi tugas oleh "master"nya untuk bersedekah selama 4 minggu.

Secara garis besar, tugas bersedekah ini agak unik, karena yang harus disedekahkan adalah uang terbesar yang ada didompet, berkebalikan dengan kebiasaan kita yang untuk bersedekah umumnya menyisihkan uang terkecil (selengkapnya bisa dibaca sendiri di forumnya). Intinya Saya tertarik untuk mempraktekkannya, dan pelajaran inilah yang saya dapat : ikhlas itu bisa dipelajari dengan menyenangkan.

Next post, Saya akan cerita tentang hari pertama Saya mempraktekkan sedekah ini, sekarang dah mau sholat jum'at. Selamat berkomentar...


Lanjuuuut...

Siapa Dia


Andro Noor atau Awantoriadi hanyalah seseorang yang ingin belajar tentang lebih banyak hal di muka bumi ini. Dan akan merasa senang apabila dapat membagi semua yang ditemukan di dalam belantara web. Dan berharap agar apa yang dilakukannya dapat bermanfaat untuk sesama!

    PhotoJournal

    Loading...